

JAKARTA, iDoPress - Trotoar di sepanjang wilayah Senen, Kramat, Jakarta Pusat, hingga Matraman, Jakarta Timur, berubah menjadi lapak pedagang musiman menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI).
Bendera Merah Putih, umbul-umbul, lampion, rumbai-rumbai, bendera berukuran kecil, hingga berbagai aksesori kemerdekaan dipajang di sepanjang jalur pejalan kaki.
Berdasarkan pengamatan iDoPress pada Jumat (7/8/2026), lebih dari 20 pedagang musiman terlihat berjualan atribut 17 Agustus dari arah Senen menuju Jatinegara.
Para pedagang tidak hanya menempati satu titik. Lapak tersebar di sejumlah lokasi, terutama di wilayah Senen, Kramat, dan Matraman.

iDoPress/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Pedagang musiman menjajakan berbagai atribut HUT ke-81 Kemerdekaan RI di trotoar kawasan Matraman, Jakarta Timur, Jumat (7/8/2026)
Sebagian pedagang menggunakan rangka bambu dan kayu yang dipasang memanjang mengikuti trotoar.
Berbagai barang dagangan digantung pada rangka hingga menutupi sebagian sisi jalur pejalan kaki.
Di sejumlah titik, jalur pemandu berwarna kuning bagi penyandang disabilitas bahkan berada di tengah area lapak.
Kursi dan barang dagangan juga terlihat ditempatkan di area trotoar. Akibatnya, ruang yang dapat digunakan pejalan kaki menjadi semakin terbatas.
Lapak-lapak tersebut berdiri hanya beberapa meter dari arus kendaraan. Aktivitas jual beli berlangsung di sisi jalan yang masih dipadati kendaraan.
Sejumlah lapak berukuran cukup besar bahkan mengambil sebagian besar ruang trotoar.
Kondisi itu membuat trotoar yang seharusnya menjadi ruang berjalan kaki berubah menjadi ruang ekonomi musiman.
Bagi pejalan kaki yang setiap hari melintasi wilayah tersebut, keberadaan lapak bukan sekadar persoalan pemandangan.
Ruang berjalan yang menyempit membuat mereka harus berbagi jalur dengan orang lain, menghindari barang dagangan, bahkan sesekali turun ke jalan.
Farhan (34), warga yang hampir setiap hari melintas di Senen-Kramat-Matraman, mengatakan bahwa keberadaan lapak cukup mengganggu ketika barang dagangan melebar ke jalur pejalan kaki.
"Kadang harus minggir atau jalan agak ke pinggir. Apalagi kalau ramai, orang yang jalan jadi berpapasan susah," kata Farhan saat ditemui iDoPress di lokasi, Jumat.
Menurut dia, kondisi trotoar sebelum dipenuhi lapak terasa lebih nyaman. Ukuran trotoar yang tidak terlalu besar membuat penambahan lapak otomatis mengurangi ruang berjalan.
Meski demikian, Farhan memahami alasan pedagang berjualan di lokasi tersebut.
Menurut dia, keberadaan pedagang musiman masih dapat dimaklumi karena hanya berlangsung menjelang perayaan kemerdekaan.
"Tapi jangan sampai mengambil semua jalur pejalan kaki," pesannya.
Ia berharap pemerintah menyediakan lokasi khusus bagi pedagang musiman. Dengan begitu, pedagang tetap dapat mencari nafkah, sementara pejalan kaki tidak kehilangan hak menggunakan trotoar.
"Lebih bagus. Pedagang tetap bisa jualan, pejalan kaki juga tetap punya tempat," kata Farhan.
Hal senada disampaikan pejalan kaki lainnya, Imra (38). Ia menilai keberadaan pedagang atribut 17 Agustus tidak menjadi masalah selama tidak mengganggu jalur pejalan kaki.
"Namanya juga orang cari makan. Apalagi ini kan memang pedagang musiman," ujar Imra saat ditemui.
Namun, ia mengakui ruang berjalan kaki berkurang ketika barang dagangan ditempatkan terlalu ke depan.
Dalam kondisi ramai, Imra bahkan pernah harus mencari jalan lain karena trotoar terhalang.
Menurut dia, pemerintah sebaiknya tidak semata-mata melarang pedagang, tetapi menyediakan ruang khusus yang tetap strategis.
"Ditata saja. Pedagang bisa jualan, pejalan kaki juga tidak terganggu," katanya.
Pendapat serupa disampaikan Rama (27) yang cukup sering melintasi trotoar wilayah Senen dalam perjalanan menuju tempat kerja.
Ia menilai trotoar menjadi sempit ketika pedagang dan pembeli berkumpul di satu area.