
JAKARTA, iDoPress - Di balik jeruji Lapas Cipinang, Muhammad Saifuloh (24) sedang belajar menjalani hari dengan cara yang berbeda.
Usianya baru 24 tahun ketika kehidupan membawanya ke tempat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Sudah sebulan ia menjadi warga binaan dan menjalani hari-hari yang diisi dengan rutinitas serta berbagai program pembinaan.
“Alhamdulillah sih nyaman,” ujar Saifuloh kepada iDoPress di lapas Cipinang, Senin (10/8/2026).
Rindu tak tersampaikan
Kata nyaman tak serta-merta berarti tanpa rindu.
Ketika ditanya tentang keluarga, Saifuloh tertawa kecil seolah menyimpan sesuatu yang sulit diterjemahkan dengan kata-kata.
“Jangan ditanya kalau itu,” kata Saifuloh.
Ada kerinduan yang mungkin ingin ia sampaikan kepada seseorang di rumah.
Namun, ketika nama ibu disebut, jawabannya justru menghadirkan kesunyian.
“Nah, kalau Ibu juga udah enggak ada,” kata Saifuloh.
Sosok yang ia rindukan dari balik jeruji itu telah lebih dulu pergi.
Mengusir jenuh dengan aktivitas
Di tengah hari-hari yang berjalan dengan batas-batas tembok lapas, Saifuloh mencari cara untuk tetap melangkah.
Ia memilih olahraga sebagai salah satu kegiatan untuk mengusir kejenuhan selama menjalani masa pembinaan.
Selain itu, ia mulai melirik berbagai program yang tersedia bagi warga binaan.
Salah satunya adalah program santri yang ingin segera diikutinya.