
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Daftar di sini
Kirim artikel
Editor Sandro Gatra
PERDEBATAN sengit antara Muhammad Qodari, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (BAKOM), dengan Fatimah Azahra, Wakil Ketua BEM Universitas Indonesia, mengenai kondisi Indonesia yang ditayangkan di acara televisi nasional menjadi viral.
Menjelang akhir debat, Qodari berulang kali mendesak Fatimah untuk menyampaikan data statistik sebagai dasar argumennya.
Fatimah berusaha mengontekstualkan persoalan melalui pengalaman empiris dan realitas yang ditemuinya di lapangan.
Namun, Qodari tetap bersikukuh bahwa diskusi yang sah hanya dapat dilakukan jika kedua belah pihak memiliki data yang seimbang.
Sepintas tidak ada yang keliru dari cara berpikir tersebut. Dalam tradisi akademik, data memang menjadi titik awal bagi proses analisis.
Namun, persoalan mendasarnya justru terletak pada pertanyaan yang jarang diajukan: apa yang sebenarnya disebut sebagai data? Apakah data hanya berarti angka-angka hasil survei, sensus, atau statistik resmi?
Apakah pengalaman hidup, observasi lapangan, kesaksian masyarakat, serta praktik keseharian tidak memiliki kedudukan sebagai data?
Pertanyaan tersebut penting diajukan karena pada kenyataannya data bukanlah sesuatu yang sepenuhnya netral. Di balik setiap data terdapat proses pemilihan variabel, metode pengumpulan, cara pengukuran, hingga kepentingan yang menentukan bagaimana data akan ditampilkan dan dimaknai.
John Perkins dalam Confessions of an Economic Hit Man (2004) menggambarkan bagaimana data ekonomi digunakan secara manipulatif untuk membenarkan proyek-proyek pembangunan berskala besar di berbagai negara berkembang termasuk Indonesia.
Melalui proyeksi pertumbuhan ekonomi yang tampak ilmiah dan meyakinkan, berbagai proyek infrastruktur dipromosikan sebagai jalan menuju kemakmuran.
Kenyataannya, keuntungan terbesar justru dinikmati oleh perusahaan-perusahaan multinasional dan pemerintah Amerika Serikat, sedangkan negara sasaran menanggung utang besar dan ketergantungan ekonomi yang berkepanjangan.
Dalam konteks tersebut, data bukan sekadar alat membaca kenyataan, melainkan instrumen untuk membentuk kenyataan sesuai kepentingan tertentu.
Statistik Tidak Pernah Bebas Nilai
Keyakinan bahwa statistik selalu objektif lahir dari cara pandang positivistik yang menganggap angka sebagai representasi paling murni dari realitas.
Padahal, statistik merupakan hasil dari serangkaian keputusan manusia. Apa yang diukur, siapa yang dihitung, kapan pengukuran dilakukan, indikator apa yang dipakai, hingga bagaimana hasil dipublikasikan merupakan keputusan metodologis yang sekaligus bersifat politis.
Angka kemiskinan, misalnya, sangat bergantung pada garis kemiskinan yang digunakan. Ketika standar pengeluaran ditetapkan sangat rendah, jumlah penduduk miskin otomatis tampak lebih sedikit.