Di Tengah Ragam Transportasi Modern Ibu Kota, Gen Z Tetap Pilih Naik Kancil

JAKARTA, iDoPress -Keberadaan mobil 'kancil' beroda empat yang desainnya menyerupai mobil listrik modern masih terus beroperasi mengangkut penumpang di wilayah Pademangan, Jakarta Utara, hingga Stasiun Jakarta Kota, Jakarta Barat.

Transportasi yang dapat mengangkut tiga hingga empat penumpang ini bisa dinaiki dari berbagai titik, mulai dari tepi jalan raya hingga kawasan permukiman.

Berbeda dengan transportasi umum lainnya yang memiliki halte, terminal, atau stasiun sebagai titik naik dan turun penumpang, kancil dapat menjemput penumpang tepat di depan rumah atau gang, lalu mengantarkannya ke lokasi yang paling dekat dengan tujuan.

Kemudahan tersebut membuat kancil kerap mengetem di depan deretan ruko di wilayah Pademangan yang banyak difungsikan sebagai perkantoran.

Para sopir berharap pekerja kantoran memanfaatkan jasa mereka untuk bepergian menuju wilayah Jakarta Kota maupun Stasiun Jakarta Kota.

Dinilai lebih efisien

Salah satu Generasi Z (Gen Z) bernama Dira (23) mengaku masih mengandalkan kancil dari Stasiun Jakarta Kota hingga ke kantornya di Pademangan sejak dua tahun terakhir.

iDoPress/ SHINTA DWI AYU Potret kendaraan kancil atau bajaj qutr yang bertahan di kawasan Pademangan, Jakarta Utara, Jumat (17/7/2026).

"Lebih memilih kancil karena lebih efisien waktu dan sejalan dengan tempat yang dituju tidak perlu jalan kaki lebih jauh," jelas Dira ketika ditemui iDoPress di wilayah Pademangan, Jumat (17/7/2026).

Dira berujar, terdapat banyak pilihan transportasi umum dari Jakarta Kota menuju ke Pademangan, salah satunya Transjakarta.

Namun, Transjakarta hanya mampu mengantarnya hingga Jalan Gunung Sahari, sehingga ia harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju kantornya di dekat permukiman Pademangan.

Dira mengaku lebih nyaman menaiki kancil karena penumpangnya hanya sekitar tiga hingga empat orang, tidak sepenuh angkot atau Jaklingko.

Tarif terjangkau

Untuk menaiki kancil dari Pademangan ke Stasiun Jakarta Kota atau sebaliknya, para penumpang harus membayar sekitar Rp 6.000 dalam satu kali jalan.

Harga tersebut dinilai masih cukup terjangkau untuk pekerja kantoran seperti Dira.

Namun, ia berharap agar pelayanan dari para sopir kancil bisa lebih diperbaiki ke depannya.

"Kalaupun ada yang perlu diperbaiki mungkin pelayanan dari driver ada yang kurang sopan atau tidak merokok di dalam saat ada penumpang," tutur dia.

Selain itu, ia juga menyarankan agar kancil-kancil yang sudah usang dan sering mogok di jalan sebaiknya diperbaiki atau diganti dengan yang baru.

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.
© Hak Cipta 2009-2020 Merchant indonesia      Hubungi kami   SiteMap