


JAKARTA, iDoPress - Di tengah derap langkah ribuan pekerja komuter yang memadati kawasan Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat, Muhammad (16), seorang remaja yang berdiri menjajakan roti demi sebuah mimpi besar untuk sang ibunda.
Muhammad rela mengorbankan masa muda dan pendidikan di bangku sekolahnya, demi menyambung hidup keluarga akibat terhimpit kondisi ekonomi keluarga.
"Sekarang memang cari uang saja fokusnya, enggak sekolah dulu karena enggak ada uang. Jadi saya yang berinisiatif untuk bekerja, untuk membantu ibu di rumah," kata Muhammad saat ditemui iDoPress di Stasiun Sudirman, Selasa (14/7/2026).
Setiap hari, remaja ini rutin menjajakan puluhan roti buatan tangan sang ibu demi menyambung hidup keluarga demi bisa membeli makanan dan membayar sewa kos yang ditinggalinya di kawasan Gang Sentiong.
Di balik kerja kerasnya berjualan roti setiap hari sejak putus sekolah, Muhammad ternyata memiliki sebuah mimpi besar untuk masa depan sang ibu tercinta.
"Harapan saya sih, insyaallah ya, suatu saat saya ingin bisa memberikan ibu kedai roti atau coffee shop begitu, atau kalau bisa perusahaan sekalian biar bisa mengembangkan produk ibu," kata Muhammad.

iDoPress/Ridho Danu Prasetyo Muhammad (16), remaja yang putus sekolah demi bantu sang ibu menjual roti di Stasiun Sudirman dan juga menawarkan jasa gambar sketsa wajah di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat
Lebih jauh, pemuda yang kini menjadi tulang punggung keluarga setelah ditinggal sang ayah ini pun bercita-cita membawa sang ibu ke Tanah Suci, Mekkah.
"Lalu insyaallah ingin membawa ibu ke Mekkah, bisa membuat rumah di Mekkah. Jadi memberangkatkan ibu ke Tanah Suci, sekalian pindah ke sana, insyaallah," harapnya.
Jual Roti di Pinggir Stasiun
Sehari-hari, ia menjajakan roti berukuran sedang seharga Rp 10.000 per buah dengan varian rasa pisang cokelat dan pisang keju di depan pintu keluar Stasiun Sudirman.
Ia menjajakan roti berukuran sedang seharga Rp 10.000 per buah dengan varian rasa pisang cokelat dan pisang keju.
"Ibu saya terakhir kali bekerja puluhan tahun lalu sebelum menikah. Sesudah menikah enggak boleh bekerja sama bapak. Akhirnya sekarang setelah pisah, ibu memanfaatkan skill bisa membuat roti saja, kadang menerima pesanan roti juga kalau ada acara," jelas Muhammad.
Dalam sehari, ia rata-rata membawa 30 buah roti yang dibagi masing-masing 15 buah untuk pagi dan sore hari.
"Setiap hari jualan pagi-sore. Dari pagi berangkat pukul 06.00 WIB sampai habis. Lalu siang pulang, sore berangkat lagi setiap selesai Ashar, sampai habis juga," jelasnya.
"Jadi siang saya pulang, saya istirahat, ibu membuat roti lagi, sore saya berangkat lagi sampai malam," sambungnya.
Jarak antara tempat tinggalnya di sebuah indekos di kawasan Gang Sentiong sampai ke Stasiun Sudirman ditempuhnya dengan berbagai cara.

iDoPress/Ridho Danu Prasetyo Roti pisang cokelat dan pisang keju yang dijual oleh Muhammad (16), remaja yang putus sekolah dan berdagang di Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat