WFH ASN Tiap Jumat, Pengawasan Atasan Jadi Kunci Keberhasilan Output

JAKARTA, iDoPress - Keputusan bekerja dari rumah (Work From Home/WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) membawa tantangan baru dalam budaya kerja birokrasi.

Perubahan sistem kerja dari kehadiran fisik di kantor menuju pola berbasis capaian membuat mekanisme pengawasan tidak lagi mengandalkan absensi atau presensi sidik jari semata.

Terlebih, WFH memunculkan kekhawatiran atas kinerja ASN.

Tanpa pemantauan yang optimal, WFH bisa saja dianggap sebagai libur panjang tiap akhir pekan, alih-alih tetap menjadi skema kerja yang produktif.

Oleh karenanya, Pakar kebijakan publik dari Universitas Indonesia (UI), Lina Miftahul Jannah menilai, peran atasan menjadi kunci untuk memastikan pegawai tetap menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya selama WFH berlangsung.

Atasan yang terus mengawasi berbagai kerja ASN akan mampu menghasilkan capaian kinerja yang positif pada lembaga.

"Pimpinan memastikan bahwa mereka memang melaksanakan fungsinya. Itu kata kunci yang pertama. Jadi, artinya tanggung jawab bukan semata di ASN," kata Lina, saat dihubungi iDoPress, Kamis (14/5/2026).

Lebih baik dibanding laporan mandiri

Lina menilai, pengawasan dari pimpinan menjadi semakin penting karena sistem kerja jarak jauh membuka peluang manipulasi laporan maupun kehadiran.

Dalam kondisi tertentu, laporan kinerja tidak selalu menggambarkan pekerjaan yang benar-benar dilakukan ASN selama WFH berlangsung.

Karena itu, menurut dia, pengawasan langsung dari atasan lebih efektif dibanding sekadar mengandalkan laporan rutin di akhir pekan atau akhir bulan.

Terlebih, pimpinan dinilai menjadi pihak yang paling memahami apakah pekerjaan bawahannya berjalan atau justru mengalami keterlambatan.

“Karena kadang-kadang laporan itu juga bisa dibuat-buat ya,” ujar Lina.

Ia mengatakan, pimpinan seharusnya dapat melihat secara langsung apabila terdapat pekerjaan yang tertunda atau pelayanan yang tidak berjalan optimal selama kebijakan WFH diterapkan.

“Misalnya mereka menganggap kok pekerjaan tertunda ya, nah kan itu yang tahu pimpinannya nih. Jadi, harus mereka melakukan evaluasi,” kata Lina.

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.
© Hak Cipta 2009-2020 Merchant indonesia      Hubungi kami   SiteMap