Lahan Marginal untuk Komoditas Potensial

Anda bisa menjadi kolumnis !

Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Daftar di sini

Kirim artikel

Editor Ferril Dennys

PADA 2026, tingkat kemiskinan nasional menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun kesenjangan antara wilayah perdesaan dan perkotaan masih cukup lebar.

Kemiskinan perdesaan tetap hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan perkotaan.

Di wilayah dengan dominasi lahan kering seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), tingkat kemiskinan masih tergolong tinggi, dengan proporsi kemiskinan perdesaan yang secara konsisten lebih besar dibandingkan rata-rata nasional.

Kemiskinan di Indonesia hari ini tidak lagi semata-mata soal kurangnya sumber daya, tetapi sering kali tentang ketidaktepatan strategi dalam memanfaatkannya.

Hal ini paling nyata terlihat di wilayah lahan kering dan marjinal, dimana terdapat hamparan luas di Indonesia masuk kategori ini dan kerap diposisikan sebagai “pinggiran”.

Indonesia memiliki sekitar 143 juta hektare lahan kering, dengan dominasi lahan kering masam sekitar 108,8 juta hektare.

Skala ini menjadikan lahan kering bukan sekadar wilayah marginal, tetapi arena strategis pembangunan ekonomi berbasis sumber daya lokal.

Kondisi ini tidak lepas dari karakter ekologis wilayahnya. Lahan kering ditandai oleh keterbatasan air (umumnya tadah hujan), kesuburan tanah rendah, dan kerentanan tinggi terhadap erosi.

Sementara lahan marjinal memiliki produktivitas rendah tanpa intervensi teknologi yang tepat.

Kombinasi faktor ini membuat produktivitas rendah, pendapatan tidak stabil, dan akses pasar terbatas.

Pilihan Komoditas Kunci Produktivitas

Pengembangan perkebunan di lahan kering tidak bisa dilakukan secara seragam.

Prinsip utamanya adalah kesesuaian tapak (fit-to-site), atau menyesuaikan jenis komoditas dengan kondisi agroklimat, tanah, dan ketersediaan air.

Di wilayah dengan curah hujan rendah, jambu mete menjadi contoh paling relevan. Tanaman ini mampu tumbuh pada curah hujan sekitar 500–1.000 mm per tahun dengan periode kering 4–6 bulan.

Kemampuannya bertahan di tanah kurang subur menjadikannya ideal untuk lahan kritis, sekaligus memiliki nilai ekonomi tinggi melalui produk kernel, minyak CNSL, dan olahan pangan.

Kelapa juga menjadi komoditas fleksibel, meskipun tetap membutuhkan kondisi tertentu.

Pada zona optimal, kelapa tumbuh baik di daerah dengan bulan kering kurang dari tiga bulan dan elevasi rendah.

Nilai tambahnya sangat luas, mulai dari santan, minyak kelapa, gula kelapa, hingga produk turunan seperti serat dan briket.

Untuk wilayah dengan kondisi mikroklimat yang lebih mendukung, kopi dan kakao menjadi pilihan strategis.

Kopi robusta dan arabika membutuhkan curah hujan sekitar 1.250–2.500 mm per tahun dengan periode kering terbatas.

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.
© Hak Cipta 2009-2020 Merchant indonesia      Hubungi kami   SiteMap